Cara Cerdas Berinvestasi Yg Kondusif Buat Milenial

Jakarta, Beritasatu.com – Sosialisasi dan edukasi tentang investasi sangat krusial buat terus digaungkan, khususnya bagi kalangan milenial agar nir mudah terpedaya investasi ilegal.

“Kalangan milenial wajibdibekali literasi keuangan, sehingga sebagai budaya yg akhirnya menciptakan karakter yg terbiasa buat menabung dan berinvestasi,” ujar anggota dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara, dalam acara Literasi Keuangan Goes to Campus yang diselenggarakan BeritaSatu Media Holdings bekerja sama dengan OJK, Bank Mandiri, Prudential, BRI Insurance, Panin Asset Management, & Universitas Katolik Parahyangan melalui webinar, Kamis (13/8/2020).

Tirta memaparkan, setidaknya terdapat empat langkah kondusif untuk berinvestasi, yaitu kenali kebutuhan dan kemampuan, kenali produk dan jasa keuangan, kenali manfaat & risiko, serta kenali hak dan kewajiban. Empat hal ini, menurutnya, sangat penting, apalagi sekarang ini poly sekali investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tidak logis. Ribuan entitas memang telah ditutup sang satgas investasi, rinciannya 792 entitas investasi ilegal, dua.588 entitas fintech ilegal, dan 93 entitas gadai ilegal. Namun setiap harinya selalu bermunculan investasi & fintech ilegal baru.

“Secara umum investasi ilegal itu mempunyai ciri menjanjikan laba yg rancu dalam waktu cepat, menjanjikan insentif menurut perekrutan anggota baru, memanfaatkan tokok rakyat atau tokoh agama, janji aset kondusif & agunan pembelian balik , klaim tanpa risiko, dan legalitas tidak jelas. Jadi harus hari-hati dan perlu dicek,” istilah Tirta.

Karenanya, lanjut Tirta, investasi yang dipilih wajibmemiliki dua prinsip, yaitu sah dan logis. “Jika tidak logis, ini wajibhati-hati. Kemudian terkait legalitas, ini wajibkita cek, sebagai akibatnya kita mampu melakukan investasi secara cerdas & kondusif,” istilah Tirta.

Dalam berinvestasi, terdapat banyak instrumen yg mampu dipilih, galat satunya di pasar kapital melalui saham, reksadana atau obligasi.

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto mengungkapkan, buat memilih investasi pada pasar modal, para investor perlu melihatnya berdasarkan sisi jangka panjang, tidak hanya setahun atau 2 tahun waktu saham sedang turun. Rudiyanto memberi contoh, jika di tahun 2009 kita berinvestasi Rp 100.000, maka pada tahun 2019 buat uang yg ditaruh pada saham akan sebagai Rp 255.000, di obligasi negara menjadi Rp 206.000, ad interim di emas Rp 138.000.

“Dalam jangka panjang, pasar modal memiliki tingkat laba yg secara historis bisa lebih baik dibandingkan menggunakan investasi yg lebih tradisional seperti emas. Betul, investasi pada pasar modal itu berfluktuasi. Namun pada jangka panjang pula memperlihatkan laba yg nir kalah menggunakan investasi tradisional,” kata Rudiyanto.

Selain itu, para investor jua perlu tahu adanya risiko investasi di pasar kapital, misalnya risiko pasar. Sehingga perlu langkah antisipasi melalui langkah diversifikasi, dan juga investasi terpola atau market timing.

“Risiko pasar itu saat kita beli saham, sahamnya turun. Kalau kita beli obligasi, lantaran mungkin asing sedang banyak jual, harganya turun. Tetapi penurunan atau kenaikan itu merupakan hal yg umum di pasar modal,” istilah Rudiyanto.

Risiko lainnya yang terkait likuiditas, risiko gagal bayar, risiko pembubaran, hingga risiko penipuan. Karenanya, penting sekali buat tahu prosedur dan peraturan yg berlaku, dan menghindari transaksi tunai atau transfer ke perorangan.

“Walaupun perusahaan atau produknya itu legal, kadang-kadang ada saja satu dua oknum yg pada menjalankan bisnis tidak sinkron anggaran, sehingga mereka mendapatkan hukuman pembubaran menurut regulator. Makanya kita perlu melihat, contohnya pada menjalankan pemasaran apakah telah sinkron anggaran atau tidak, apakah ada janji-janji return yg tidak wajar. Kemudian apakah dalam presentasi mereka mengungkapkan semua proses atau tidak. Kalau perusahannya nir mengikuti aturan, baik dalam pengelolaan juga pemasaran, beliau berisiko dibubarkan,” papar Rudiyanto.

Selain pada pasar kapital, polis premi pula mampu menjadi instrumen investasi. Direktur Utama PT BRI Asuransi Indonesia Fankar Umran menyampaikan, kesadaran akan pentingnya mempunyai iuran pertanggungan pada Indonesia ketika ini masih rendah, terutama pada grup milenial. Padahal kepemilikan premi sangat penting buat melindungi diri & jua perencanaan keuangan.

“Asuransi, khususnya general insurance itu melindungi diri dari berbagai risiko. Pengelolaan keuangan tanpa menyertakan iuran pertanggungan akan mengancam perencanaan keuangan di waktu terjadi risiko finansial. Misalnya ketika honorsudah direncanakan buat investasi, lalu tiba-tiba mengalami kecelakaan, uang yang tadinya diinvestasikan buat tabungan masa depan akhirnya malah digunakan buat membayar perbaikan mobil yg mengalami kecelakaan,” papar Fankar.

Hal senada disampaikan Chief Investment Officer Prudential Indonesia, Novi Imelda. Memiliki asuransi, menurut Imelda, sangat krusial supaya ketika terjadi misalnya sakit yg membutuhkan porto akbar buat pengobatan, uang yg selama ini sudah kita simpan melalui tabungan atau investasi nir sampai terganggu. Selain itu, iuran pertanggungan pula mampu memberikan manfaat proteksi & investasi sekaligus melalui unit link.

Investasi, termasuk juga memiliki premi dari Novi wajibdimulai sedini mungkin, agar kita mempunyai passive income dan tidak perlu kerja terus sampai tua saat syarat fisiknya telah tidak sebugar dulu.

“Uang yg dimiliki perlu diinvestasikan agar lebih optimal lagi, mulai menurut deposito, obligasi, saham, atau yang lain. Seluruh instrumen investasi ini harus dipahami benarrisiko-risikonya. Selain itu, kita jua wajibpunya premi lantaran sakit itu mahal,” pesan Novi.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Johannes Gunawan lebih menyoroti perjanjian atau kontrak yg dibentuk antara lembaga jasa keuangan menggunakan investor. Pada masa sekarang ini, hampir semua kontrak tadi dinilainya sebagai kontrak baku dan dibuat sepihak. Seringkali investor atau konsumen pula tidak mengetahui kata-kata yg digunakan dalam kontrak yg disodorkan.

“Dalam berinvestasi, kita harus mengetahui hak dan kewajiban. Ini mampu diketahui di dalam kontrak atau perjanjian. Namun ini kinimenjadi masalah besarlantaran 99 persen dari kontrak yg terjadi pada kehidupan kita sehari-hari berupa kontrak yang baku. Jadi ketentuan yg terdapat di pada kontrak ini perlu dipandang betul oleh setiap investor,” kata Johannes.

Ia mengusulkan supaya sebelum kontrak-kontrak baku tadi digunakan, model kontraknya wajibdisetujui terlebih dahulu oleh Pemerintah, asosiasi pelaku usaha atau lembaga jasa keuangan, & jua asosiasi konsumen, sehingga tidak hingga ada pihak yg dirugikan dalam kontrak baku tersebut.

Saksikan live streaming acara-program BeritaSatu TV di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *